Lahan Pertanian di Jatim Terdampak Cuaca Ekstrem, Pemprov Pastikan Produksi Padi Tetap Aman
![]() |
| Foto : Tanaman padi siap panen |
MediaSINDO.Net - Surabaya
Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur sepanjang Oktober 2025 berdampak pada kerusakan lahan pertanian. Sekitar 3.000 hektare lahan padi di antaranya di Pasuruan dan Bojonegoro dilaporkan mengalami puso. Meski begitu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan kondisi tersebut tidak mengganggu total produksi padi tahun ini.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Dr. Heru Suseno, S.TP., M.T, menegaskan bahwa mayoritas puso terjadi ketika tanaman padi telah melewati masa panen utama. Karena itu, pengaruh terhadap hasil produksi secara keseluruhan dinilai sangat minim.
“Puso kemarin itu totalnya 3.000 hektare, tetapi tersebar di berbagai titik. Semuanya sudah kami tindaklanjuti dengan pemberian bantuan,” ujar Heru, Rabu (14/1/2026).
Selain puso, fenomena banjir yang sempat terjadi di beberapa kabupaten juga dinilai tidak banyak mempengaruhi kondisi tanaman. Menurut Heru, sebagian besar genangan cepat surut sehingga tidak sempat merusak pertumbuhan padi.
“Tidak semua banjir itu melanda areal sawah. Banyak yang hanya menggenang sehari lalu surut, sehingga tidak menimbulkan kerusakan berarti,” jelasnya.
Pemprov Jatim juga memantau secara ketat peringatan dini dari BMKG terkait potensi cuaca ekstrem yang diprakirakan berlangsung hingga awal Februari 2026. Kondisi ini dinilai penting mengingat jaraknya yang berdekatan dengan masa panen padi pada Maret 2026.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pertanian Jatim melakukan pendataan berkala apabila muncul laporan puso baru. Petani terdampak akan memperoleh bantuan berupa benih pengganti dan fasilitasi tanam ulang melalui kerja sama dengan Kementerian Pertanian.
“Petani tidak perlu khawatir. Jika ada puso baru, benih pasti kami ganti dan mereka bisa tanam kembali,” tegas Heru.
Meski cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi, Heru optimistis hasil produksi padi sepanjang 2026 akan meningkat. Optimisme tersebut didasarkan pada luas tanam Oktober–Desember 2025 yang tercatat lebih tinggi daripada periode yang sama pada 2024.
“Melihat luas tanam yang lebih besar, produksi tahun 2026 diprediksi mengalami peningkatan,” pungkasnya. (*)


Posting Komentar