Semarak HUT ke-81 RI, Pemkab Kediri Lestarikan Tradisi Cikar Sekaligus Perkuat Potensi Peternakan
![]() |
| Foto: Sekda Kediri, M. Solikin, melepas peserta parade cikar tahun 2026 dengan pukul gong ditaman totok Kerot, bulupasar,pagu, Kediri |
MediaSindo.Net - Kediri
Ditengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap daging dan susu yang belum sepenuhnya mampu dipenuhi, Pemerintah Kabupaten Kediri mendorong sektor peternakan sapi tidak sekadar dipandang sebagai tradisi, tetapi sebagai salah satu sumber ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Dr. M. Solikin, M.AP, saat melepas parade cikar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu (22/8/2026) di Taman Totok Kerot, Bulu pasar, Pagu Kediri.
Menurut Solikin, parade cikar bukan hanya kegiatan untuk melestarikan budaya dan menghidupkan kembali memori publik terhadap keberadaan cikar sebagai bagian dari kehidupan masyarakat masa lalu. Di balik kegiatan tersebut, terdapat pesan ekonomi yang ingin disampaikan pemerintah kepada masyarakat.
“Kebutuhan susu sangat tinggi dan hari ini kita belum bisa memenuhi seluruh jumlah kebutuhan tersebut,” ujar Solikin.
Karena itu, pemerintah mendorong masyarakat melihat peternakan sapi sebagai sektor yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Keberadaan para peternak, penghobi sapi, hingga pelestari budaya dinilai dapat menjadi contoh nyata bahwa usaha ternak dapat memberikan penghidupan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Beternak sapi adalah potensi yang luar biasa bagi kemakmuran masyarakat,” tegasnya.
![]() |
| Foto: Penyerahan penghargaan kepada para juara parade cikar tahun 2026 di kawasan SLG |
Solikin menyebut potensi ekonomi peternakan tidak berhenti pada produksi daging dan susu. Produk olahan yang bersumber dari ternak juga memiliki peluang nilai tambah yang jauh lebih besar.
Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap produk peternakan masih tinggi. Karena itu, penguatan sektor peternakan harus dilakukan secara bersama-sama, termasuk dengan memperhatikan persoalan yang dihadapi para peternak.
Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah tingginya harga pakan. Pemerintah Kabupaten Kediri, kata Solikin, terus melakukan komunikasi dengan para peternak maupun industri pakan agar kebutuhan peternak dapat terpenuhi dengan harga yang lebih kompetitif.
“Ini masih kita komunikasikan, tidak hanya dengan para peternak, tetapi juga dengan industri pakan agar harapannya bisa bersaing sehingga kebutuhan para peternak bisa terpenuhi,” jelasnya.
Tak hanya sapi, pemerintah juga menaruh perhatian terhadap subsektor peternakan ayam. Fluktuasi harga telur menjadi salah satu persoalan yang dirasakan peternak.
Di sisi lain, tingginya kebutuhan masyarakat terhadap telur menjadi peluang yang harus dikelola dengan baik agar sektor peternakan tetap mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
![]() |
| Foto: drh. Tutik purwaningsih. M.Si, PLT kepala DKPP kabupaten kediri |
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, drh. Tutik Purwaningsih, M.Si, menjelaskan parade cikar tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Tahun ini, sebanyak 43 cikar mengikuti parade. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pelaksanaan sebelumnya yang diikuti 40 cikar. Dengan masing-masing cikar membawa dua sapi, terdapat sekitar 86 sapi yang tampil dalam kegiatan tersebut.
Menurut Tutik, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Bahkan, masih terdapat masyarakat yang belum dapat terakomodasi karena keterbatasan kuota peserta.
"Sebelum mengikuti parade, seluruh sapi yang terlibat juga telah melalui pemeriksaan kesehatan oleh petugas kesehatan hewan. Dari 46 calon peserta yang semula terdata, tiga di antaranya tidak memenuhi persyaratan sehingga tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan sapi yang dibawa ke ruang publik dalam kondisi sehat dan tidak memiliki indikasi penyakit hewan menular, "ujarnya.
Kegiatan tersebut juga dikemas sebagai sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya konsumsi produk peternakan. Sebanyak 2.000 telur rebus dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Anak-anak sekolah dasar juga dilibatkan dalam rangkaian kegiatan edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi produk peternakan sebagai bagian dari pemenuhan gizi.
"Tidak hanya telur, masyarakat juga diperkenalkan dengan berbagai produk hasil peternakan, mulai dari telur asin, olahan daging, abon hingga susu, "terangnya.
Tutik menilai kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi peternakan Kabupaten Kediri sekaligus memberikan apresiasi kepada para peternak yang selama ini berperan dalam mempertahankan populasi sapi dan melestarikan budaya cikar.
Sejumlah kecamatan menjadi kantong keberadaan cikar, dengan Wates dan Ngadiluwih disebut sebagai wilayah yang memiliki peserta cukup banyak, masing-masing sekitar 10 hingga 11 peserta.
Di balik tradisi tersebut terdapat potensi ekonomi, peternakan, edukasi pangan dan pelestarian budaya yang dapat berjalan secara bersamaan.
Parade cikar akhirnya menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia menjadi pesan bahwa tradisi bisa tetap hidup, sementara peternakan didorong menjadi sumber penghidupan dan kemakmuran masyarakat. (KRD)




Posting Komentar