Surga Durian Kediri Dibuka: Jambore Kebonrejo Pikat Wisatawan dan Gerakkan Ekonomi Rakyat
![]() |
| Foto : Jambore Kebonrejo Pikat Wisatawan dan Gerakkan Ekonomi Rakyat |
KEDIRI - MedisSindo.Net
Pemerintah desa dan masyarakat Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, menggelar Jambore Duren sebagai upaya memperkenalkan potensi daerah penghasil durian sekaligus mendorong pengembangan wisata berbasis pertanian dan budaya lokal. Kegiatan ini berlangsung di tengah suasana pedesaan yang asri bertepatan dengan musim panen raya.
Desa Kebonrejo selama ini dikenal sebagai salah satu sentra durian unggulan di wilayah Kepung. Pada pelaksanaan perdana tersebut, panitia mengidentifikasi sedikitnya 14 jenis durian lokal yang tumbuh di wilayah desa, dengan karakter rasa dan tekstur yang beragam, mulai dari manis legit, lembut, hingga beraroma kuat khas durian lokal. Selain varietas lokal, masyarakat juga membudidayakan varietas populer seperti Bawor, Musang King, Duri Hitam, dan Montong yang menambah daya tarik bagi pengunjung.
Tidak hanya menyediakan durian untuk dinikmati di lokasi, pengunjung juga dapat membeli hasil bumi segar berupa buah-buahan, sayuran, serta produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) khas desa sebagai oleh-oleh. Aktivitas ekonomi masyarakat pun meningkat seiring ramainya wisatawan yang hadir.
![]() |
| Foto : Kadis pariwisata kab. Kediri Mustika adi prayitno, saat pembukaan jambore duren di kepung |
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Adi Prayitno, yang menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif masyarakat dalam mengembangkan potensi desa melalui kegiatan berbasis kearifan lokal. Menurutnya, kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana promosi destinasi wisata sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan.
Rangkaian acara juga dimeriahkan arak-arakan panen hasil bumi sebagai simbol rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian, serta pertunjukan kesenian Reog dari Kecamatan Kepung yang menarik perhatian pengunjung.
Jambore Duren Desa Kebonrejo tidak hanya menghadirkan pengalaman menikmati “raja buah”, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, pelestarian budaya, serta penguatan ekonomi desa melalui pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan. (RD)



Posting Komentar