“Bangkit Usai PMK! Kontes Ternak Kediri 2026 Picu Perputaran Miliaran, Sapi Lokal Siap Naik Kelas Nasional”
![]() |
| Foto: PLT.kepala DKPP Kabupaten Kediri , drh.Tutik Purwaningsih, M.Si, bersama undangan usai pembukaan kontes ternak tahun 2026 kabupaten kediri |
MediaSindo.Net - Kediri
Sektor peternakan Kabupaten Kediri menunjukkan sinyal kebangkitan yang kuat. Setelah terpukul pandemi dan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) kembali menggelar Kontes Ternak Sapi Potong 2026 sebagai langkah strategis menghidupkan kembali ekonomi peternak sekaligus memperkuat daya saing ternak lokal.
Ajang ini menjadi yang pertama sejak terakhir digelar pada 2019, menandai fase baru pemulihan sektor peternakan yang sempat mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi produksi maupun distribusi. Hadir dalam giat tersebut jajaran forkopimcam Wates, Ngancar serta Kepala desa Wonorejo, Agus. Adapun dewan juri dalam kontes tersebut berasal dari Universitas Airlangga Surabaya, Uniska Kediri, serta Dinas Peternakan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kediri, drh. Tutik Purwaningsih, M.Si, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar kompetisi, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan peternakan berbasis edukasi dan pasar.
“Ini adalah momentum kebangkitan. Kami tidak hanya menampilkan ternak terbaik, tetapi juga membuka ruang pembelajaran sekaligus peluang ekonomi bagi peternak,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Kontes ternak tahun ini diikuti sebanyak 134 ekor sapi dari 26 kecamatan di Kabupaten Kediri. Angka tersebut menjadi representasi seleksi kualitas ternak terbaik, di tengah total populasi sapi potong yang mencapai sekitar 215.000 ekor.
Dalam pelaksanaannya, kontes dibagi menjadi tiga kategori utama, yakni sapi Peranakan Ongole (PO), sapi hasil persilangan melalui inseminasi buatan (IB), serta kategori ternak dengan bobot ekstrem. Ketiga kategori ini mencerminkan arah kebijakan peternakan yang tidak hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga adaptif terhadap teknologi modern.
“Kami memberikan perhatian serius pada sapi PO sebagai plasma nutfah asli Indonesia. Ini bukan sekadar ternak, tetapi aset genetik yang harus dijaga agar tidak tergeser oleh sapi non-lokal,” tegas Tutik.
![]() |
| Foto: Pkt Kepala DKPP kabupaten Kediri, drh. Tutik Purwaningsih, M.Si, saat cek disalah satu peserta kontes ternak tahun 2026 di lapangan desa Wonorejo, Wates |
Di sisi lain, kategori sapi persilangan menjadi bukti konkret keberhasilan program inseminasi buatan dalam meningkatkan kualitas genetik dan produktivitas ternak. Sementara kategori bobot ekstrem menjadi simbol keberhasilan manajemen peternakan modern yang mampu menghasilkan ternak bernilai tinggi.
Dari aspek ekonomi, kontes ini diproyeksikan mampu mendorong perputaran uang hingga sekitar Rp 6 miliar. Dengan kisaran harga sapi potong antara Rp 65.000 hingga Rp150.000 per kilogram, potensi ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor peternakan tetap menjadi salah satu penopang ekonomi daerah.
Menjelang Hari Raya Iduladha, DKPP juga memastikan kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk Rumah Potong Hewan (RPH) yang mampu melayani hingga 40 ekor per hari. Langkah ini dilakukan untuk menjamin standar kesehatan, higienitas, dan keamanan pangan bagi masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat, takmir masjid, dan panitia kurban untuk memanfaatkan fasilitas RPH agar proses penyembelihan lebih aman, sehat, dan sesuai syariat,” tambahnya.
![]() |
| Foto: Kades Wonorejo, Agus, menerima nasi potongan tumpeng dari PLT kepala DKPP kabupaten Kediri, drh. Tutik Purwaningsih, M.Si |
Lebih jauh, Tutik menekankan bahwa potensi besar yang dimiliki Kabupaten Kediri harus didorong dengan kolaborasi lintas sektor, termasuk menjaga stabilitas harga dan memperkuat jejaring dengan asosiasi peternak serta pelaku usaha.
“Kami optimistis Kediri bisa naik kelas. Dengan dukungan semua pihak, sangat memungkinkan ke depan kita menembus level provinsi bahkan nasional,”terangnya.
Kontes ternak ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi simbol kebangkitan dan arah baru pembangunan peternakan yang berkelanjutan. Di tengah tantangan global, Kediri mulai menunjukkan bahwa sapi lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga siap bersaing di panggung yang lebih luas.
Selain kontes ternak, kegiatan ini juga diramaikan oleh pelaku UMKM lokal serta operasi pasar murah. Hadir pula program dari Perum Bulog Kediri yang menjual beras SPHP kemasan 5 kg seharga Rp57 ribu, serta penjualan gula pasir Rp15 ribu per kilogram oleh pelaku usaha lokal. Produk kuliner khas seperti bebek goreng dan bakar dari Pare hingga tahu takwa turut meramaikan suasana.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Kediri menargetkan peningkatan skala kegiatan ini. Jika tahun ini masih tingkat kabupaten, pada tahun berikutnya diharapkan bisa naik ke tingkat provinsi bahkan nasional.
“Kalau untuk tingkat nasional, Wonorejo sudah siap. Kami tidak akan kesulitan mencari lokasi,” tegas Tutik optimistis.
Ia berharap, kontes ternak ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat serta mendorong kemajuan sektor peternakan di Kabupaten Kediri. (RD)



Posting Komentar