Jaga Produksi Pangan, Jatim All Out Hadapi Kemarau Panjang 2026
![]() |
| Foto : Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, kesiapsiagaan seluruh elemen menjadi faktor penting agar Jawa Timur tetap mampu mempertahankan sebagai salah satu lumbung pangan nasional |
MediaSindo.Net - Surabaya
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat mengantisipasi dampak musim kemarau 2026 yang diprediksi berlangsung cukup panjang. Bertempat di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menginstruksikan seluruh Bupati dan Wali Kota se-Jawa Timur untuk memperkuat langkah mitigasi, khususnya di sektor pertanian.
Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Jawa Timur diperkirakan terjadi mulai April hingga Agustus 2026. Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan yang dapat mengganggu produktivitas pertanian sebagai penopang utama ketahanan pangan nasional.
“Kita tidak boleh menunggu dampak terjadi baru bertindak. Produksi pertanian harus tetap terjaga agar ketahanan pangan Jawa Timur tetap kuat,” tegas Khofifah.
Untuk itu, Pemprov Jatim menetapkan lima langkah strategis yang wajib segera dijalankan oleh pemerintah daerah:
Pertama, pemetaan dan peringatan dini.
Setiap daerah diminta memetakan wilayah rawan kekeringan serta mengaktifkan Brigade Kekeringan guna mempercepat respons di lapangan.
Kedua, optimalisasi sumber air.
Langkah ini meliputi rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan dan pemanfaatan embung, serta optimalisasi teknologi pompanisasi dan sistem perpipaan untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Ketiga, percepatan masa tanam.
Petani didorong untuk memanfaatkan waktu tanam secara optimal dengan menggunakan varietas tanaman tahan kekeringan atau berumur genjah, khususnya di wilayah potensial.
Keempat, penyesuaian pola tanam.
Strategi tanam harus disesuaikan dengan kondisi iklim dan ketersediaan air di masing-masing daerah agar hasil produksi tetap maksimal.
Kelima, penguatan sinergi antar stakeholder.
Koordinasi antara pemerintah daerah, petani, penyuluh pertanian, hingga Forkopimda menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan kemarau.
Khofifah menegaskan, kesiapsiagaan seluruh elemen menjadi faktor penting agar Jawa Timur tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Dengan langkah antisipatif yang terstruktur dan kolaboratif, Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis dampak musim kemarau dapat ditekan, sekaligus menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim. (Dispertan Jatim)


Posting Komentar